suara-suara menyerukan kebisingan
mengusik hati dan pikiran
entah apa yang mreka suarakan
mungkin hanyalah perasaan dalam keraguan
dikala waktu terus berjalan
diri seakan dalam buaian
bagaikan api dalam perapian
yang suatu saat akan padam
hingga arang dalam perapian habis terbakar
jiwa di dalam raga masih mencari keajaiban
yang dapat pulihkan segala kesakitan
yang dapat kembalikan semua kebahagiaan
apa yang dirasa semua tak berbeda
janji dan kesetiaan hanya omong kosong belaka
hari-hari bagaikan pagi tanpa mentari
hitam kelam tanpa pencerahan dalam diri
apalah artinya hidup ini ?
jika semua rasa benci tak ingin bersembunyi
jika segala hal harus bergerak dalam alur yang tak sejalan
haruskah kubiarkan menjadi bagian dari drama keputusasaan
tampak jelas semua raut yang semakin suram
biarkanlah nisan yang memisahkan
sampai darah bercucuran dalam kubangan
kuharap ajal segera datang
"di sore hari saat hujan rintik-rintik melanda kota Bandung. dihiasi kesepian dan kesunyian, aku melihat keluar jendela kamarku dan tak ada siapa-siapa".
.
.. kenapa marah ini tak juga mereda? Kenapa juga resah ini repot-repot menguntitku? Seolah tak kenal lelah dia selalu tahu dimana aku berada. Mengikutiku perlahan kemanapun aku pergi. Melangkah tertahan-tahan nyaris tanpa suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar